Seorang anak Pekanbaru tewas akibat dampak asap

0
245
Lili, ibu dari almarhum Ramadhani Luthfi Aerli, membelai jasad anaknya yang diduga meninggal akibat dampak kabut asap di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (21/10). Berdasarkan keterangan dokter yang merawat, anak berusia sembilan tahun itu meninggal akibat dampak asap karena terdapat jelaga asap di dalam paru-paru Ramadhani, yang membuatnya mengalami kekurangan oksigen dan kejang-kejang. ANTARA FOTO/FB Anggoro/foc/15.

Ramadhani Luthfi Aerli, seorang anak berusia sembilan tahun, meninggal dunia karena kuat dugaan menjadi korban dampak kabut asap kebakaran lahan dan hutan di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu.

“Anak saya mendadak panas dan kejang-kejang, dan tidak bisa tertolong lagi,” kata ayah almarhum, Eri Wiria, kepada Antara di rumah duka Gg. Salam Jalan Pangeran Hidayat, Kota Pekanbaru.

Almarhum Ramdhani adalah anak sulung dari dua bersaudara, dari pasangan suami-istri Eri Wiria dan Lili. Eri menyatakan, almarhum anaknya sempat dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang PICU RS Santa Maria sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada sekitar pukul 04.45 WIB.

Eri sempat menunjukan hasil rontgen alamarhum anaknya yang didapatkan dari dokter RS Santa Maria. Menurut dia, dokter jaga RS Santa Maria mengatakan anaknya mengalami kekurangan oksigen di jantungnya dan hasil rontgen menunjukan paru-paru almarhum Ramadhani terdapat gumpalan seperti asap.

“Dokter menjelaskan terjadi penipisan oksigen di jantungnya, dan di paru-paru almarhum anak saya seperti ada awan-awan berbayang,” katanya.

Ia menjelaskan, almarhum anaknya yang masih duduk di bangku kelas tiga SD itu tidak pernah ada riwayat sakit sebelumnya. Sehari sebelum kematiannya, almarhum Ramadhani Luthfi berada di rumah karena sekolah diliburkan. Eri mengatakan, anaknya pada Selasa siang (20/10) itu mengeluh badannya panas dan seharian tidur saja dirumahnya.

Menurut dia, kondisi anaknya tiba-tiba memburuk pada malam hari. “Dia muntah-muntah, kejang-kejang, dan buang air besar. Saya langsung bawa dia ke RS Santa Maria dan saat masuk ke IGD langsung diberikan bantuan oksigen,” katanya.

Eri mengatakan anaknya sempat dipindahkan dari IGD ke ruang perawatan khusus PICU dan dipasangi alat-alat bantu untuk menunjang hidupnya. Namun, kondisinya makin parah dan meninggal dunia pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.45 WIB.

“Saya benar-benar tidak tega melihat anak saya dipompa dan ditekan-tekan dadanya. Tepat pada saat adzan Shubuh, anak saya tidak ada lagi,” katanya.

Sementara itu, Manajer Pelayanan Medik RS Santa Maria dr. Yuliarni mengatakan almarhum Ramadhani Luthfi tiba dalam kondisi berat karena mengalami kejang-kejang. Almarhum hanya sempat dirawat sekitar tiga jam di rumah sakit tersebut sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Pasien sudah datang dalam kondisi berat. Asap memang bisa membuat kejang-kejang,” kata dr. Yuliarni menjelaskan menyebabkan kematian korban.